Suatu ketika saat maminya menemani Najmi belajar di malam hari, adek Rais
mulai rewel. Dengan spontan Najmi memberikan kartu yang baru saja dibuat Najmi
di siang harinya.
“Adek maui ini?” Ucap Najmi
Adek Rais tertarik dengan kartu ukuran kecil yang dihiasi gambar oleh
kakaknya. Tanpa berpikir panjang maminya pun ok saja, tidak memperhatikan hal
apa yang dilakukan Adek rais. Ternyata kartu Kakak Najmi sobek oleh Adek Rais.
Tiba-tiba hal itu diketahui Najmi. Bagaimana reaksi sang Kakak?
“Adek,.. ini kan kakak dah capek bikin” Najmi tak terlihat marah besar
tapi ia tampak sedih.
“Maaf Kak, Adek tak sengaja!” Mami mewakilkan Adek rais untuk meminta maaf
kepada Kakak Najmi, atas kesalahan Adek Rais.
“Ma.. ii yo, akachan kara. Souganai
ne! (ya udah nggak papa, karena masih bayi, apa boleh buat). Spontanitas
keelokan Kakak Najmi diketahui maminya, dari kata-kata yang terucap.
Kejadian
itu tak bisa hilang begitu saja dari ingatan sang Mami. Berkali-kali hal serupa
terlontar dari mulut kecil Najmi, saat karyanya rusak oleh Adek Rais. Saat
karya yang dipersembahkan kakak kepada adeknya, diremas dan tidak dipelihara
Adek Rais. Bahkan ucapan itu pernah dialamatkan untuk maminya ketika Adek rais
berbuat suatu kesalahan.
“Mami,
souganai deshou?... akachan kara.”
Lagi-lagi Najmi meng-rem, menetralisir suasana dan membunuh kemarahan
Maminya.
Allahu akbar, Allah Maha Besar, melaui insan kecil pun dititipkannya
kecerdasan, ketangkasan agar seseorang bisa berprilaku yang wajar, bijaksana
dan memahami keadaan. Sungguh kuasa Allah tak terkira. Sungguh di luar dugaan
manusia.
Hal
yang bisa dipetik, dalam diri anak ada potensi kebenaran. Ia bisa menjadi
sumber inspirasi dan motivasi bagi orang tuanya. Semoga kita semua dapat
memposisikan diri dalam keadaan yang sebaik-baiknya untuk mereka, agar
kecerdasan, potensi dan nilai-nilai alamiah yang telah dianugrahkan sang
Pencipta selalu tumbuh dan berkembang dalam dirinya. Ia selayaknya dihargai,
didengarkan, dan dipertimbangkan dalam membuat suatu keputusan, bukan hanya
sebagai objek yang harus mengikuti kemauan dan aturan-aturan orangtuanya.
Sungguh
banyak pelajaran berharga dari anak-anak kita yang membuat diri kita takjub
kepadaNya. Mungkin juga banyak ibu-ibu, atau teman-teman lain yang mengalami
hal serupa.
Semoga
kita dapat memperlakukan mereka dengan baik, lembut tapi bijaksana, disiplin
tapi bersabahat, sehingga mereka tak merasakan kekerasan dan kaget dengan
orang tuanya, dengan ibu yang penuh perjuangan untuk menghadirkan mereka ke
dunia ini.
Semoga pertolongan-pertolongan dari tangan-tangan kecil kita, dan segala
hiburan dan pendidikan “lucu” dari mereka, dapat menambah semangat dan
keikhlasan dalam membimbing dan membesarkan mereka, sehingga mereka punya modal
dalam menjalani kehidupan ini. Amiin yarabbal ‘alamiin.
Wassalam
Mamianak
Tokyo, 081023