Semakin mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak, terasa semakin ingin
dekat dengan mereka. Ingin menjadi orang yang paling berjasa, paling baik,
paling dekat dengan mereka. Tak terasa bosan untuk berada bersama dengan
mereka. Bahkan banyak pelajaran indah dan menarik yang dapat dipetik dari
keberadaan mereka.
Najmi dalam usianya 6 tahun ini banyak sekali membuat orang tuanya makin
mengerti dan memahaminya. Ia hadir sekarang dalam penampilan yang sangat dewasa
dibandingkan dengan usianya. Namun yang pasti tetap saja ia membutuhkan
bermanja-manja dengan kedua orangtuanya, sebagai salah satu tuntutannya bahwa
orang tuanya benar-benar menyayanginya.
“Adek
Rais,…ayo kakak ajarin mengaji!” Najmi mengajak Adek Rais mengaji setelah
bacaannya disimak oleh maminya. Najmi memegang Iqra’ satu. Ia pun membacakan
bacaan dari halaman satu untuk adeknya. Adek Rais pun tampak mengikuti dan
memperhatikan buku Iqra’ yang dipegang kakaknya.
“Kita
Orang muslim sayang…, harus bisa mengaji, sholat, baca do’a!”
Pemasukan nilai kebenaran oleh Najmi kepada, Rais. Maminya yang sedang
melipat dan merapikan peralatan sholat, selesai sholat Isya berjama’ah dengan
anak-ananknya, tampak tersenyum.
“Alhamdulillah ternyata kebenaran itu telah dimiliki Najmi, dan ia tampak
ingin mengajak adeknya juga.”
Walaupun belum diketahui 100% aktualitas Najmi terhadap perkataannya,
namun pada hari selanjutnya pun Najmi melakukan hal yang sama sebelum bacaannya
didengarkan maminya. Malah ajakan mengaji datang dari Najmi.
Bagaimana Adek Rais bisa tertarik dengan buku Iqra’ yang dipegang
kakaknya? Adek Rais memang sudah tak asing lagi dengan buku-buku. Sejak usia 3
hari, Najmi selalu membawakan buku bacaan untuk adeknya ketika Adek masih di
rumah sakit. Hal itu berlanjut hingga sekarang. Bahkan ketika Adek Rais
menangis, buku bayi yang bergambar gede
dan berwarna kontras dibawakan oleh sang kakak. Adek Rais pun tertarik. Apalagi
Kakak Najmi tampak berkata-kata dengan sayang kepada adeknya. Jadi buku Iqra’
yang lusuh pun, ketika dibacakan Kakak Najmi mampu memikat perhatian Adek Rais.
“Terus terang saya mendapatkan pelajaran berharga dari kehadiran
anak-anak. Saya makin paham, makin dini anak diperkenalkan sesuatu hal yang
baik, makin mudah menepis aksi penolakan anak.” Ungkap sang Mami.
Kata-kata yang terucap dalam hati, karena maminya berkaca pada
pengalamannya mengenalkan Iqra’ kepada Najmi mulai usia 4 tahun. Saat itu,
cukup meminta perhatian serius bagi sang Mami untuk menemukan kiat dan metode
yang tepat untuk Najmi, seperti yang dituturkan dalam buku “Menggali Potensi
Anak Sejak Usia Dini.”
***
Ada suatu hal lain yang membuat maminya geli dari kejadian seperti yang
dituturkan di atas, “murid kecil, guru kecil”. Tentu Najmi akan hadir sebagai
guru yang disenangi karakternya oleh anak kecil, karena ia berada dalam
kategori anak-anak. Misalnya Kakak tampak berlaku lembut kepada adeknya.
Artinya apa? Ia menyukai kelembutan dan mungkin saja dengan ucapan begitu,
kakak Najmi menginginkan siapa saja bersikap lembut kepadanya.
Ingin diperlakukan dengan lembut adalah naluri manusia. Suatu hal yang tak
bisa ditawar lagi dan mungkin kita semua manusia dewasa membutuhkannya.
Bila kita bijak memperhatikan aksi dan reaksi anak, makin hari kita akan
paham bahwa mereka adalah manusia kecil yang membawa nilai-nilai kebenaran yang
dibutuhkan oleh manusia dewasa
No comments:
Post a Comment