Melalui Tangan Para Setiap Ibu InsyaAllah Berarti Besar Untuk Perbaikan RI Kita

Dengan Menggali Potensi Anak Sejak Usia Dini, insyaAllah merupakan salah satu cara memutus rantai permasalahan bangsa. Untuk itu mari kita bergiat bersama memberikan pengasuhan dengan pola yang terinovasi untuk para anak-anak kita.


Thursday, October 23, 2008

Ketika Kakak Najmi Mengajarkan Adek Rais Mengaji


Semakin mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak, terasa semakin ingin dekat dengan mereka. Ingin menjadi orang yang paling berjasa, paling baik, paling dekat dengan mereka. Tak terasa bosan untuk berada bersama dengan mereka. Bahkan banyak pelajaran indah dan menarik yang dapat dipetik dari keberadaan mereka.

Najmi dalam usianya 6 tahun ini banyak sekali membuat orang tuanya makin mengerti dan memahaminya. Ia hadir sekarang dalam penampilan yang sangat dewasa dibandingkan dengan usianya. Namun yang pasti tetap saja ia membutuhkan bermanja-manja dengan kedua orangtuanya, sebagai salah satu tuntutannya bahwa orang tuanya benar-benar menyayanginya.

          “Adek Rais,…ayo kakak ajarin mengaji!” Najmi mengajak Adek Rais mengaji setelah bacaannya disimak oleh maminya. Najmi memegang Iqra’ satu. Ia pun membacakan bacaan dari halaman satu untuk adeknya. Adek Rais pun tampak mengikuti dan memperhatikan buku Iqra’ yang dipegang kakaknya.

          “Kita Orang muslim sayang…, harus bisa mengaji, sholat, baca do’a!”

Pemasukan nilai kebenaran oleh Najmi kepada, Rais. Maminya yang sedang melipat dan merapikan peralatan sholat, selesai sholat Isya berjama’ah dengan anak-ananknya, tampak tersenyum.

“Alhamdulillah ternyata kebenaran itu telah dimiliki Najmi, dan ia tampak ingin mengajak adeknya juga.”

Walaupun belum diketahui 100% aktualitas Najmi terhadap perkataannya, namun pada hari selanjutnya pun Najmi melakukan hal yang sama sebelum bacaannya didengarkan maminya. Malah ajakan mengaji datang dari Najmi.

Bagaimana Adek Rais bisa tertarik dengan buku Iqra’ yang dipegang kakaknya? Adek Rais memang sudah tak asing lagi dengan buku-buku. Sejak usia 3 hari, Najmi selalu membawakan buku bacaan untuk adeknya ketika Adek masih di rumah sakit. Hal itu berlanjut hingga sekarang. Bahkan ketika Adek Rais menangis, buku bayi yang bergambar gede dan berwarna kontras dibawakan oleh sang kakak. Adek Rais pun tertarik. Apalagi Kakak Najmi tampak berkata-kata dengan sayang kepada adeknya. Jadi buku Iqra’ yang lusuh pun, ketika dibacakan Kakak Najmi mampu memikat perhatian Adek Rais.

“Terus terang saya mendapatkan pelajaran berharga dari kehadiran anak-anak. Saya makin paham, makin dini anak diperkenalkan sesuatu hal yang baik, makin mudah menepis aksi penolakan anak.” Ungkap sang Mami.

Kata-kata yang terucap dalam hati, karena maminya berkaca pada pengalamannya mengenalkan Iqra’ kepada Najmi mulai usia 4 tahun. Saat itu, cukup meminta perhatian serius bagi sang Mami untuk menemukan kiat dan metode yang tepat untuk Najmi, seperti yang dituturkan dalam buku “Menggali Potensi Anak Sejak Usia Dini.”

***

Ada suatu hal lain yang membuat maminya geli dari kejadian seperti yang dituturkan di atas, “murid kecil, guru kecil”. Tentu Najmi akan hadir sebagai guru yang disenangi karakternya oleh anak kecil, karena ia berada dalam kategori anak-anak. Misalnya Kakak tampak berlaku lembut kepada adeknya. Artinya apa? Ia menyukai kelembutan dan mungkin saja dengan ucapan begitu, kakak Najmi menginginkan siapa saja bersikap lembut kepadanya.

Ingin diperlakukan dengan lembut adalah naluri manusia. Suatu hal yang tak bisa ditawar lagi dan mungkin kita semua manusia dewasa membutuhkannya.

Bila kita bijak memperhatikan aksi dan reaksi anak, makin hari kita akan paham bahwa mereka adalah manusia kecil yang membawa nilai-nilai kebenaran yang dibutuhkan oleh manusia dewasa
 
Wassalam
Mamianak
Tokyo
081023

No comments:

Post a Comment