Melalui Tangan Para Setiap Ibu InsyaAllah Berarti Besar Untuk Perbaikan RI Kita

Dengan Menggali Potensi Anak Sejak Usia Dini, insyaAllah merupakan salah satu cara memutus rantai permasalahan bangsa. Untuk itu mari kita bergiat bersama memberikan pengasuhan dengan pola yang terinovasi untuk para anak-anak kita.


Wednesday, October 27, 2010

Salah Satu Metode Kakak Najmi Mengatasi Tangisan Adek Rais


Metode Kakak Najmi Mengatasi Tangisan Adek Rais

 

Kehadiran Kakak Najmi makin memperkuat penilai Mami, sang kakak banyak mendatangkan bantuan untuk meringankan tugas maminya.

Kakak Najmi juga sigap dan tanggap bila Adek Rais menangis, sementara maminya masih sibuk dengan urusan rumah. Ada-ada saja ide kecilnya yang menarik perhatian adeknya, sehingga tangisan adek terputus. Misalnya, ia akan bernyanyi dan bergoyang di depan adeknya. Ide lain, ia datang dengan permainan tangan, sambil berkata, “Ue, shita, migi hidari (atas, bawah, kanan, kiri).” Cara ini juga mapuh membunuh tangisan adek Rais.

***

Maminya bersyukur, berkata-kata dengan sayang, dengan hati lunak kepada anak, lebih mempunyai “kekuatan” kebenaran bagi anak. Sehingga program pengajaran yang ingin diterapkan kepada anak, misalnya dalam hal mengaji, kegiatan itu dapat diadopsi dan dipelihara oleh anak. Bahkan ia pun ingin mengajak adeknya untuk belajar mengaji.

“Terbersit dalam hati untuk ingin lebih memiliki kesabaran, kelembutan dalam menghadapi, membesarkan dan mendidik anak-anak. Bukan dengan paksaan dan kekerasan,” ungkap sang Ibu. Suatu tekad Ibu dari dua anak ini.



 

 

 

 

Monday, October 25, 2010

Surat Surat Berharga dari Najmi


 

 

Sejak Najmi bisa menuliskan huruf-huruf hiragana, ia dengan rajin menulis hal apa yang terasa di hatinya. Tiba-tiba saja Najmi berkata, “Hai Mami, otegami yo! (Ini Mami, ada surat).”

Banyak surat yang dibuat Najmi, untuk orang-orang yang dia inginkan, misalnya mami-papinya, Adek Rais, Shinjou Sensei (dokter kandungan dan yang membantu persalinan ketika Adek rais lahir). Bahkan kemarin malam, setelah belajar Najmi pun menulis surat untuk guru di SDJJ Fahima. Namun karena alamatnya belum tahu, maminya belum memposkan surat untuk Ibu guru Najmi.

 

Surat untuk Mami

Mami he (Untuk Mami)

Mami daisuki (Saya suka sama Mami)

Najmi yori! (dari Najmi)

 

Surat Untuk papinya :

Papi he (Untuk Papi)

Oshigoto ganbatte ne (Papi giat bekerja ya)

Najmi yori (dari Najmi)

 

Surat untuk Adek Rais:

Raiskun he (Untuk Rais)

Raiskun kakoi (Rais keren/pujian untuk penampilan anak laki-laki)

Najmi yori! (dari Najmi)

 

Surat surat yang dibuat Najmi pertama kali, hanya sederhana, tapi penyampaiannya cukup bermakna dalam. Surat itu dibungkus dalam amplop bikinan Najmi, seperti amplop Jepang yang berlapis-lapis. Hal itu makin membuat penasaran orang-orang yang diberi surat oleh Najmi.

Kian hari surat-surat untuk Mami, Papi, Adek Rais, makin berkembang isinya. Namun satu hal yang membuat maminya terhibur, kata-kata “saya suka/sayang sama Mami” selalu dituliskan Najmi buat maminya.

Dari kejadian itu apa yang bisa dianalisis sang Mami? Maminya ingin lebih berhati-hati, dalam bersikap dan bertindak untuk anak-anaknya. Bukan bangga atas pujian, tapi ingin bersikap lebih bijak dalam menghadapi Najmi yang makin hari makin kritis. Terbukti rasa sayang dan kelembutan disukai oleh anak. Perkataan najmi itu dijadikan acuan oleh maminya untuk menghindari kekerasan dan hal apapun juga kepada anak-anaknya. Serasa ada masukan dari guru kepada sang Mami untuk lebih berhati-hati dan bertindak yang tepat dalam menghadapi Adek Rais, yang masih belum mengerti apa-apa.

“Terimakasih Nak!” elusan dan ciuman sang Mami, setiap kali menerima surat yang diposisikan sebagai surat peringatan oleh Mami terhadap dirinya, agar terhindar dari hal yang tidak disenangi anak. Namun bukan berarti longgar dan membiarkan maunya anak. Disiplin, bermanfaat namun bersahabat, hal yang ingin diterapkan oleh sang Mami. 

 
wassalam
Mamiank
Tokyo
081025